Banyak designer berpikir bahwa tugas mereka adalah membuat tampilan yang “bagus”. Warna yang menarik, layout yang rapi, dan visual yang estetik.
Tapi dalam dunia UI/UX, ada satu hal yang jauh lebih penting:
Masalah Utama: Designer Terlalu Fokus ke Diri Sendiri
Sering kali, seorang desainer tanpa sadar membuat karya berdasarkan ego atau tren semata, seperti:
• Selera pribadi yang belum tentu cocok dengan target audiens.
• Tren desain terbaru yang terkadang mengorbankan fungsi utama sistem.
• Referensi visual dari platform seperti Dribbble yang sering kali hanya berfokus penuh pada estetika semata.
Hasilnya? Desain terlihat sangat keren dan memukau di portofolio pribadi, tetapi justru membingungkan saat digunakan oleh user di dunia nyata.
User Tidak Peduli Design Kamu Keren atau Tidak
User hanya peduli satu hal: “Apakah ini mudah digunakan?”
Mereka tidak akan memperhatikan detail kecocokan warna secara mendalam, mengagumi layout yang terlalu kompleks, ataupun menghargai seberapa besar effort design yang kamu keluarkan. Jika mereka merasa bingung saat pertama kali mencoba, mereka tidak akan ragu untuk langsung menutup aplikasi atau website kamu.
Lalu, Berpikir Seperti User Itu Bagaimana?
Berpikir seperti user berarti kamu menempatkan diri sebagai pengguna aktif, bukan sebagai desainer pencipta. Artinya:
• Mengutamakan kejelasan, bukan sekadar estetika: Pastikan informasi paling penting adalah yang paling mudah dibaca oleh mata.
• Mengurangi elemen yang tidak perlu: Jangan gunakan dekorasi berlebihan yang hanya membuat layar terlihat penuh sesak (cluttered).
• Memastikan setiap elemen memiliki fungsi yang jelas: Tombol aksi harus mudah ditemukan, sistem navigasi harus sederhana, dan informasi penting langsung terlihat tanpa harus dicari susah payah.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Mendesign
Hindari tiga pola kebiasaan buruk ini agar hasil desain kamu tetap fungsional di mata pengguna:
1. Overdesign: Menambahkan terlalu banyak elemen visual, animasi rumit, dan dekorasi pelengkap yang justru mengganggu fokus utama pengguna.
2. Tidak Konsisten: Menggunakan gaya tombol, skema warna, atau jenis ikon yang berbeda-beda di tiap halaman sehingga membingungkan alur pikir user.
3. Mengabaikan Alur Pengguna: Mengharuskan pengguna berpikir terlalu keras dan melewati banyak langkah rumit hanya untuk menyelesaikan satu aksi sederhana.
Kesimpulan: Desain yang Baik Itu “Tidak Terasa”
Desain yang bagus bukan yang paling mencolok secara visual, tetapi yang paling mulus saat digunakan. Jika seorang pengguna bisa menyelesaikan tujuannya tanpa harus berpikir lama, itu artinya desain kamu berhasil.
Menjadi desainer bukan soal “bikin bagus”, tapi soal menyelesaikan masalah. Semakin kamu bisa keluar dari perspektif diri sendiri dan masuk ke perspektif pengguna, semakin tinggi kualitas desain yang kamu hasilkan.
Ubah Perspektif Desainmu Menjadi Solutif
Kalau kamu masih fokus ke “bikin bagus”, mungkin sekarang saatnya mulai belajar dari sudut pandang user. Bareng Qoorva, kamu bisa belajar design dan UI/UX dengan cara yang lebih terarah—bukan cuma estetika, tapi juga fungsi dan pengalaman pengguna. Di sini, kamu bisa mulai bikin desain yang bukan cuma keren, tapi juga benar-benar solutif!